Cerita Pasien Osteoartritis, Lakukan Operasi Penggantian Lutut dengan Teknologi Robotik

Health123 Views

JAKARTA, Waynews.id – Penyakit osteoarthritis (radang sendi lutut) membuat Rosemi (57 tahun) merasakan nyeri lutut luar biasa dan sulit beraktivitas. Mau tak mau, ia akhirnya melakukan operasi penggantian lutut.

Atas saran dokter di Siloam Hospitals Surabaya, ia melakukan prosedur operasi penggantian lutut (Total Knee Replacement/TKR) berbasis robotic, yaitu CUVIS Robotic System. Teknologi ini memungkinkan pemasangan implan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, sehingga meminimalkan nyeri pascaoperasi dan mempercepat proses pemulihan.

Hanya dalam beberapa hari, Rosemi sudah dapat kembali beraktivitas tanpa menggunakan alat bantu jalan. “Pada saat awal tentu merasa takut ya, namun setelahnya saya puas sekali. Dengan dibantu CUVIS, operasinya sangat presisi dan pemulihannya cepat. Pelayanan dokter dan tenaga medis di Siloam Surabaya juga sangat luar biasa,” ungkap Rosemi.

Cerita Rosemi mencerminkan potensi besar robotic surgery dalam meningkatkan hasil klinis dan kualitas hidup pasien.  Kehadiran teknologi ini juga memperkuat komitmen Siloam Hospitals Surabaya dalam menghadirkan layanan kesehatan berstandar internasional yang berbasis teknologi canggih.

“Ini kabar baik. Kini pasien tidak perlu lagi bepergian ke luar negeri untuk menjalani operasi dengan sistem robotik. Bagi masyarakat yang membutuhkan tindakan bedah lutut presisi, bisa berobat di Surabaya saja,” ujar Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk, David Utama, dalam keterangan tertulis yang diterima Waynews.id di Jakarta.

Dokter ahli ortopedi Siloam Hospitals Surabaya dr Teddy Heri Wardhana, SpO Tmenjelaskan, “Prosedur TKR dengan teknologi robotik seperti CUVIS umumnya direkomendasikan bagi pasien osteoarthritis (OA) stadium lanjut, kata dr Teddy.

Gejala Osteoartritis

Gejela osteoarthritis lanjut, umumnya mengalami nyeri berangsur-angsur, kaku sendi di pagi hari, atau kaku sendi setelah istirahat. Pada penderita OA, jelas dr Teddy, sendi dapat mengalami pembengkakan, muncul suara (krepitus) saat digerakkan, serta keterbatasan gerak.

Faktor Risiko

Dr Teddy menjelaskan, osteoarthritis sering kali dipicu oleh usia lanjut, kelebihan berat badan, riwayat cedera, serta faktor hormonal dan genetik.

Keunggulan CUVIS Robotic Surgical Asisstant

Penderita OA dapat melakukan prosedur TKR dengan teknologi CUVIS Robotic Surgical Asisstant mutakhir asal Korea Selatan. Hanya saja, menurut dr dr Kukuh Dwiputra Hernugrahanto, SpOT(K), penting dipahami bahwa tidak semua pasien nyeri lutut harus menjalani operasi TKR berbantuan robot.

“Pasien OA stadium awal biasanya akan mendapatkan terapi non-bedah, seperti pengobatan farmakologis. Teknologi robotik direkomendasikan untuk kasus stadium lanjut ketika metode lain tidak lagi efektif,” tegas dr Kukuh.

Memang, dibandingkan metode konvensional, robotic TKR menghasilkan fungsi sendi yang lebih optimal. “Prosedur ini dirancang secara individual berdasarkan anatomi pasien, memungkinkan sayatan yang lebih kecil dan presisi tinggi, serta mengurangi intervensi pada jaringan sehat,” jelas dr Treddy.

Teknologi ini dirancang untuk membantu pasien osteoarthritis (OA) stadium lanjut yang mengalami nyeri lutut kronis, dengan hasil operasi yang lebih presisi, minim nyeri, dan masa pemulihan yang lebih cepat.

Menurut dr Teddy, CUVIS Robotic Surgical Assistant adalah satu-satunya sistem robotik untuk operasi lutut yang mampu melakukan pemotongan tulang secara otomatis dengan presisi tinggi, di bawah kendali penuh dan pengawasan langsung dokter bedah ortopedi. Teknologi ini membedakannya dari sistem robotik lain yang ada di Indonesia.

Teknologi ini memungkinkan dokter melakukan pemetaan struktur lutut secara menyeluruh melalui CT-scan dan perencanaan digital tiga dimensi. CUVIS Robotic Surgical Assistant bekerja secara real-time dengan tingkat akurasi tinggi, meminimalkan trauma jaringan, menurunkan risiko infeksi, dan mempercepat pemulihan pasca-operasi.

“CUVIS membantu kami melakukan operasi secara lebih presisi, sehingga jaringan sehat bisa tetap terlindungi, rasa nyeri lebih ringan, dan pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu yang lebih singkat,” kata dr. Teddy.

Lebih lanjut, Dr dr Kukuh Dwiputra Hernugrahanto, SpOT(K) menambahkan “Teknologi CUVIS memungkinkan kami menyesuaikan setiap langkah operasi sesuai anatomi unik pasien. Dengan dukungan perencanaan digital tiga dimensi, hasilnya lebih optimal dan risiko komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.”

Hasilnya, pasien mengalami nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, proses pemulihan yang lebih cepat, serta peningkatan fleksibilitas dan mobilitas lutut, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup yang lebih baik. (WN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed